RSS

PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN PENDIDIKAN UNTUK SEKOLAH EFEKTIF

04 Jul

Oleh: Slamet Lestari (
ABSTRACT
Effective educational leader must be able to combine and create synergy role as chief
executive and leading professional. Education leaders have a responsibility to create an
organizational culture that enhances the development and growth of the organization.
Characteristic of educative leader is the leader provides opportunities for school members to
develop self-understanding and push on to reflect conditions in practice. Education leaders have
three main roles: the areas of leadership, managerial, and curriculum-teaching. These three roles
(including those aspects in it) must be able to run an effective school principal so that support
school improvement.
Pendahuluan
Sekolah dapat dikatakan efektif apabila terdapat kesesuaian dan ketepatan antara tujuan dan
pencapaiannya. Efektivitas tidak berarti menggambarkan keseluruhan aspek yang ada, tetapi
sebuah sekolah, mungkin “efektif sebagian” artinya sekolah efektif dalam mencapai satu atau
lebih aspek tertentu, tetapi tidak efektif dalam pencapaian bidang yang lain. Bagi sekolah,
pengelolaan sekolah dengan menggunakan manajemen partisipasi dan transparansi perlu menjadi
landasan kerja bagi semua warga sekolah.
Di negara kita, model sekolah efektif secara kebijakan maupun praktiknya terwadahi dalam
program Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah atau MPMBS (Depdiknas, 2002:14).
Pada sekolah efektif, kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan,
menggerakkan, dan menyerasikan semua sumberdaya pendidikan yang tersedia. Kepemimpinan
kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat
mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran sekolahnya melalui program-program yang
dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Oleh karena itu, kepala sekolah dituntut memiliki
kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang tangguh agar mampu mengambil keputusan dan
inisiatif/prakarsa untuk meningkatkan mutu sekolah. Secara umum, kepala sekolah tangguh
memiliki kemampuan memobilisasi sumberdaya sekolah, terutama sumberdaya manusia, untuk
mencapai tujuan sekolah.
Pemimpin Pendidikan: Integrasi Multi-Ketrampilan
Pemimpin pendidikan perlu memiliki integrasi ketrampilan teknis, pedagogis, profesional
dan manajerial, sebagaimana Hughes (1988) uraikan sebagai ’professional-as-administrator’ yang
mencakup dualitas peran sebagai pimpinan eksekutif (chief executive) dan memimpin secara
profesional (leading professional), dalam aspek internal maupun eksternal (gambar 1). Untuk
menjadi pemimpin pendidikan yang efektif harus mampu mengkombinasikan dan menciptakan
sinergi kedua aspek tersebut. Selain itu, pemimpin pendidikan harus mampu menggunakan
berbagai sumberdaya material dan manusia secara kreatif, melibatkan anggota organisasi sesuai
peran masing-masing dalam pengambilan kebijakan (pendekatan partisipatif). Dari beberapa hasil
riset, diidentifikasi bahwa kombinasi kepemimpinan kepala sekolah yang profesional, harapan
tinggi (partisipasi) warga sekolah, dan budaya sekolah yang positif merupakan faktor penentu
efektivitas sekolah.
|Kepemimpinan Pendidikan |
|Chief executive officer |Leading professional |
|Peran Internal |Peran Internal |
| | |
|Ahli strategi (Strategist): |Penasihat (Mentor): memberi |
|mengartikulasikan arah dan fokus|bimbingan profesional kepada |
|strategis organisasi; bertindak |bawahan |
|sebagai katalisator pengembangan|Pendidik (Educator): |
| |mempertunjukkan kemampuan teknis |
|Manajer (Manager): |dan ketrampilan pengajaran |
|mengalokasikan dan mengkoordinir|Penasehat (Advisor): mendukung |
|bidang fungsi organisasi |dan memberi arahan kepada para |
|Wasitr (Arbitrator): bertindak |murid, orangtua, guru, dll |
|sebagai perantara organisatoris | |
|dan wasit | |
|Peran Eksternal |Peran Eksternal |
| | |
|Petugas eksekutif (Executive |Duta besar (Ambassador): duta |
|officer): bertanggung-jawab |organisasi dalam cakupan luas |
|kepada pemerintah |aktivitas profesional eksternal |
|Diplomat (Diplomat): |Pengacara (Advocate): jurubicara |
|mengartikulasikan misi dan |kelembagaan berbagai permasalahan|
|melakukan hubungan dengan |pendidikan dan bidang profesional|
|masyarakat (stakeholders) dan |lainnya |
|badan eksternal | |
Gambar 1.
Kepemimpinan Pendidikan: Dualitas Peran (Law & Glover: 2000)
Pemimpin Pendidikan: “Culture Creator”
Menurut Duignan & Macpherson efektivitas sekolah menekankan pentingnya apa yang
terjadi di dalam kelas dan kepemimpinan pendidikan yang menyediakan suatu kultur di dalam
proses belajar mengajar, oleh karenanya, pemimpin pendidikan memiliki tanggung jawab untuk
menciptakan kultur organisasi yang mempertinggi pengembangan dan pertumbuhan organisasi
(Bush & Coleman, 2000). Kualitas yang diidentifikasi oleh Duignan dan Macpherson pada
pemimpin pendidikan (educative leader), serupa dengan pemimpin transformational, yang
menekankan pada pemimpin yang mendorong dan memberdayakan tanggung jawab bawahan,
dengan:
1. Menciptakan peluang untuk peserta (partisipan) dalam proses perubahan untuk merefleksikan
praktek mereka dan mengembangkan pemahaman pribadi menyangkut implikasi dan
perubahan diri mereka;
2. Mendorong mereka yang terlibat dalam implementasi suatu peningkatan untuk membentuk
kelompok sosial dan menyediakan dukungan timbal balik sepanjang proses perubahan;
3. Menyediakan peluang umpan balik positif untuk semua yang terlibat dalam perubahan; dan
4. Sensitip pada hasil pengembangan proses dan menyediakan kondisi-kondisi penting bagi umpan balik dan tindak lanjut sehingga yang terlibat memiliki kesempatan mendiskusikan dan
memikirkan kembali gagasan dan praktek mereka.
Fiedler (1997) mencatat implikasi di atas untuk kepemimpinan pengajaran mencakup: 1)
Mengelola pengajaran dan kurikulum; 2) Pengawasan pengajaran; 3) Monitoring kemajuan siswa;
dan 4) Menyediakan iklim mengajar yang mengajar. Northfield menambahkan bahwa kunci corak
pemimpin mendidik (educative leader) adalah pemimpin menyediakan peluang untuk peserta
mengembangkan pemahaman pribadi dan mendorong pada kondisi-kondisi untuk merefleksikan
dalam praktek (Bush & Coleman, 2000).
Tiga Peran Utama Pemimpin Pendidikan
Menurut Lunenberg & Orstein (2000) secara garis besar pemimpin pendidikan memiliki
tiga peran utama: bidang kepemimpinan, managerial, dan kurikulum-pengajaran. Berikut akan
dijelaskan masing-masing peran tersebut.
1. Peran kepemimpinan kepala sekolah
a. Kepala sekolah merupakan kunci dalam membentuk kultur sekolah. Kepala sekolah harus
dapat membentuk budaya positif, di mana staf berbagi pengertian, dan memiliki dedikasi
untuk peningkatan sekolah dan pengajaran. Sukses siswa disoroti dan kolegialitas
menyebar keseluruh bagian sekolah. Moril tinggi, kepedulian, dan memiliki komitmen.
b. Kepala sekolah harus dapat menjalin hubungan dengan kelompok, internal dan eksternal
sekolah, seperti (1) pengawas dan pengelola pendidikan pusat, (2) dewan sekolah, (3)
teman sejawat, (4) orang tua, (5) masyarakat sekitar, (6) guru, (7) siswa, dan (8) kelompok
eksternal seperti profesor, konsultan, badan akreditasi, dan sebagainya. Kepala sekolah
yang efektif perlu untuk percaya pada kemampuan diri dan mampu mensinergikan
persepsi, harapan, maupun kemampuan berbagai kelompok tersebut dapat memberi
dukungan terhadap kemajuan sekolah.
2. Peran manajerial kepala sekolah
a. Peran manajerial merupakan aspek utama kepemimpinan sekolah. Katz dan Kanz
membagi ketrampilan manajemen ke dalam tiga area utama: (1) teknis (technical),
mencakup teknik proses manajemen (perencanaan, pengaturan, koordinasi, pengawasan,
dan pengendalian), (2) manusia (human), ketrampilan hubungan antar manusia,
memotivasi dan membangun moral, (3) konseptual (conceptual), menekankan pengetahuan
dan teknis terkait jasa (atau produk) tentang organisasi. Sergiovanni menambahkan dua
area lain manajemen untuk pengurus sekolah, yaitu kepemimpinan simbolis (symbolic
leadership), tindakan kepala sekolah memberi teladan (model) kepada warga sekolah, dan
kepemimpinan budaya (cultural leadership), bahwa kepercayaan dan nilai-nilai kepala
sekolah merupakan unsur penting. Fullan dan Sarason menambahkan suatu dimensi
manajemen sekolah yaitu kepala sekolah sebagai agen perubahan (change agent) dan
fasilitator.
b. Secara umum, kepala sekolah harus “memimpin dari pusat” (lead from the centre):
demokratis, mendelegasikan tanggung-jawab, memberi kuasa dalam pengambilan
keputusan, dan mengembangkan usaha kolaboratif yang mengikat siswa, guru, dan orang
tua. Hal tersebut mengandung arti bahwa pemimpin dalam segala hal hendaknya ada di
tengah komponen organisasi (partisipatif).
c. Lipham mengembangkan sebuah “teori empat faktor “ (four-factor theory) tentang
kepemimpinan untuk kepala sekolah, yaitu (1) kepemimpinan struktural, (2)
kepemimpinan fasilitatif, (3) kepemimpinan yang mendukung, dan (4) kepemimpinan
partisipatif. Semua faktor kepemimpinan tersebut menekankan ketrampilan managerial dan
administratif. Kebehasilan kepala sekolah adalah dapat memodifikasi atau menyesuaikan
empat faktor kepemimpinan sesuai kebutuhan sekolah.
3. Peran kurikulum-pengajaran kepala sekolah
Bidang kurikulum-pengajaran hendaknya menjadi prioritas kerja utama kepala sekolah
sehingga dapat meningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Murphy mengembangkan enam
peran kepala sekolah dibidang kurikulum dan pengajaran, yaitu: (1) menjamin kualitas
pengajaran, (2) mengawasi dan mengevaluasi pengajaran, (3) mengalokasi dan melindungi waktu
pengajaran, (4) mengkoordinir kurikulum, (5) memastikan isi matapelajaran tersampaikan, dan (6)
monitoring kemajuan siswa. Menurut Murphy, enam peran tersebut menggambarkan suatu contoh
kepala sekolah efektif.
Penutup
Dari uraian mengenai kepemimpinan pendidikan untuk sekolah efektif di atas maka dapat
disimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Pemimpin pendidikan yang efektif harus mampu mengkombinasikan dan menciptakan sinergi
peran sebagai chief executive dan leading professional.
2. Pemimpin pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kultur organisasi yang
mempertinggi pengembangan dan pertumbuhan organisasi.
3. Ciri khas pemimpin pendidikan (educative leader) adalah pemimpin menyediakan peluang
untuk warga sekolah mengembangkan pemahaman diri dan mendorong pada kondisi-kondisi
untuk merefleksikan dalam praktek.
4. Pemimpin pendidikan memiliki tiga peran utama: bidang kepemimpinan, managerial, dan
kurikulum-pengajaran. Ketiga peran tersebut (termasuk aspek-aspek di dalamnya) harus
mampu dijalankan kepala sekolah secara efektif sehingga mendukung kemajuan sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: Depdiknas.
Bush, and Coleman. 2000. Leadership and Strategic Management in Education. Houston: Gulf
Publising.
Fiedler, Fred R. 1997. A Theory of Leadership Effectiveness. New York: McGraw-Hill Book Co.
Hughes, Richard C. 1988. Leadership: Enhancing The Lessons of Experience. Boston: McGraw-
Hill/Irwin.
Law, and Glover. 2000. Educational Leadership & Learning. New York: Dryden Press.
Lunenberg, F.C. and Orstein, A.C. 2000. Educational Administration: Concepts and Practices.
3th Edition. Belmont, CA: Wadsworth Thomson Learning.
( ) Staf Pengajar Jurusan Administrasi Pendidikan

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juli 2011 in Materi Muliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: