RSS

Teori-teori Kepemimpinan

04 Jul

  1. Studi tentang bagaimana kepemimpinan itu menjadi efektif atau bagaimana seseorang itu bisa muncul menjadi pemimpin yang efektif dalam suatu organisasi, telah melahirkan beragam teori. Paling tidak ada tiga macam teori kepemimpinan yang cukup terkenal, yaitu: Teori Sifat, Perilaku, dan Situasional-Contingency.

    1. Teori Sifat
    Menurut teori ini pemimpin itu muncul karena ia memiliki ciri-ciri atau sifat-sifat tertentu yang menyebabkan dapat memimpin para pcngikutnya. Edwin Ghiselli menunjukkan sifat-sifat tertentu yang penting untuk kepemimpinan efektif, antara lain:
    a. Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas (supervisory ability) atau pelaksanaan fungsi-fungsi dasar manajemen, terutama pengarahan dan pengawasan pekerjaan orang lain.
    b. Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan, mencakup pencarian tanggung jawab dan kcinginan sukses.
    c. Kecerdasan, mencakup kebijakan, pemikiran kreatif dan days pikir.
    d. Ketegasan (decisiveness), atau kemampuan untuk membuat keputusan-keputusan dan memecahkan masalah-masalah dengan cakap dan tepat.
    e. Kepercayaan diri, atau pandangan terhadap dirinya sebagai kemampuan untuk menghadapi masalah.
    f. Inisiatif, atau kemampuan untuk hertindak tidak tergantung, mengemhangkan serangkaian kegiatan dan menemukan cara-cars barn atau inovasi.

    Sedangkan menurut Keith Davis, ada 4 (empat) sifat utama, yaitu:
    a. Kecerdasan
    b. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial,
    c. Motivasi diri dan dorongan berprestasi, dan
    d. Sikap-sikap hubungan manusiawi. (Hani Handoko, 1990: 297)
    Tcori sifat ternyata mcmiliki keterbatasan-keterbatasan. Sebab dalam kenyataannya, para pemimpin memiliki sifat-sifat yang berbeda. Dan hanyak kasus, seorang pemimpin bisa sukses di suatu tempat, tetapi tidak sukses di tempat atau situasi lain .

    2. Teori Perilaku
    Menurut teori perilaku, pemimpin itu sukses tergantung apa yang dilakukan, yakni bagaimana mereka mendelegasikan tugas, berkomunikasi dengan dan memotivasi bawahan, menjalankan berbagai tugas, dan sebagainya. Perilaku-perilaku ini dapat dipelajari atau dikembangkan. Sehingga individu-individu dapat dilatih dengan perilaku¬perilaku kepemimpinan yang tepat.
    Teori perilaku memusatkan perhatiannya pada dua aspek perilaku kepemimpinan, yaitu fungsi-fungsi dan gaya-gaya kepemimpinan. Fungsi-fungsi yang harus dilakukan pemimpin agar kelompok berjalan efektif yaitu: 1) fungsi-fungsi yang berhubungan dengan tugas (“task-related’) atau pemecahan masalah, dan 2) fungsi-fungsi pemeliharaan kelompok (“group-maintenance’) atau sosial. Sedangkan gaya-gaya kepemimpinan meliputi gaya dengan orientasi tugas (task-oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan (employee-oriented).
    Gaya-gaya kepemimpinan itu dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia/bawahan berdasarkan teori X dan Y.
    Teori X beranggapan bahwa:
    a. Rata-rata pembawaan manusia malas atau tidak menyukai pekerjaan dan akan menghindarinya bila mungkin.
    b. Karena karakteristik manusia tersebut, orang harus dipaksa, diawasi, diarahkan, atau diancam dengan hukuman agar mereka menjalankan tugas untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.
    c. Rata-rata manusia lehih menyukai diarahkan, ingin menghindari tanggung jawab, mempunyai ambisi relatif kecil, dan menginginkan keamanan/jaminan hidup di atas segalanya.
    Pemimpin yang menganut anggapan-anggapan teori X akan cenderung menyukai gaya kepemimpinan otokratik.
    Teori Y beranggapan bahwa:
    a. Penggunaan usaha phisik dan mental dalam bekerja adalah kodrat manusia, seperti bermain atau istirahat.
    b. Pengawasan dan ancaman hukuman eksternal bukanlah satu-satunya cara untuk mengarahkan usaha pencapaian tujuan organisasi. Orang akan melakukan pengendalian diri dan pengarahan diri untuk mencapai tujuan yang telah disetujuinya.
    c. Keterikatan pada tujuan merupakan fungsi dari penghargaan yang berhubungan dengan prestasi mereka.
    d. Rata-rata manusia, dalam kondisi yang layak, belajar tidak hanya untuk menerima tetapi mencari tanggung jawab.
    e. Ada kapasitas besar untuk melakukan imajinasi, kecerdikan dan kreatifitas dalam penyelesaian masalah-masalah organisasi yang secara luas tersebar pada seluruh karyawan.
    f. Potensi intelektual rata-rata manusia hanya digunakan sebagian saja dalam kondisi kehidupan indusrri modern.
    Pemimpin yang mengikuti teori Y akan lebih menyukai gaya kepemimpinan partisipatif atau demokratik. (Hani Handoko, 1990: 300-301)

    3. Teori Situasional-Contingency
    Teori situasional-cintingency menyatakan bahwa pemimpin efektif itu tergantung pada banyak faktor, seperti situasi, karyawan, tugas, organisasi dan variabel-variabel lingkungan lainnya. Mary Parker Follet, yang mengembangkan hukum situasi, mengatakan bahwa ada tiga variabel kritis yang mempengaruhi gaya kepemimpinan, yaitu: 1) pemimpin, 2) pengikut atau bawahan, dan 3) situasi. Ketiganya saling berhubungan dan berinteraksi.
    Tujuan Kepemimpinan

    Tujuan kepemimpinan dalam manajemen adalah untuk meningkatkan performansi manusia dan mesin, memperbaiki kualitas yang ada, meningkatkan output dan produktiftas, serta secara simultan mampu menciptakan kebanggaan kerja (pride of workmanship) bagi pekerja (Vincent Gaapersz, 1997: 199)
    Kepemimpinan dalam manajemen bukan untuk menemukan dan mencatat kegagalan yang dibuat pekerja serta kemudian menghukum pekerja itu, tetapi untuk mengidentifikasi dan kemudian menghilangkan penyebab kegagalan itu, serta membantu pekerja agar mampu mengerjakan pekerjaan secara lebih baik dengan memperhatikan efektivitas (pencapaian tujuan) dan efisiensi (penggunaan biaya) dalam setiap aktivitas yang dilakukan.

    Kriteria kepemimpinan efektif

    Kepemimpinan yang efektif menurut konsep manajemen kualitas adalah kepemimpinan yang sensitif atau peka terhadap perubahan dan melakukan pekerjaannya secara terfokus. Memimpin berarti menentukan hal-hal yang tepat untuk dikerjakan, menciptakan dinamika organisasi yang dikehendaki agar semua orang memberikan komitmen, bekerja dengan semangat dan antusias untuk mewujudkan hal-hal yang telah ditetapkan. Memimpin berarti jugs dapat mengkomunikasikan viii dan prinsip perusahaan kepada seluruh karyawan. Kegiatan memimpin termasuk menciptakan budaya atau kultur positif dan iklim yang harmonia dalam lingkungan perusahaan, serta menciptakan tanggung jawab dan pemberian wewenang dalam pencapaian tujuan bersama (empowerment). Terdapat hubungan tanggung jawab dan wewenang dengan derajat atau tingkat pemberdayaan (amount of empowerment) karyawan dalam organisasi yang menerapkan manajemen kualitas. (Vincent Gaapersz, 1997: 199).
    Perbedaan Tugas Pemimpin dan Manajer

    Terdapat sejumlah perbedaan tugas pemimpin dibandingkan dengan manajer dalam manajemen kualitas seperti tetrera dalam tabel berikut (Vincent Gaapersz, 1997: 201):

    Perbedaan Tugas Pemimpin dan Manajer

Tugas Pemimpin

  1.  Mengembangkan visi serta menetapkan arah strategi perusahaan untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang dibutuhkan agar mencapai visi itu.
  2.  Mengkomunikasikan tujuan yang ingin dicapai melalui pemyataan dan perbuatan (tindakan) kepada siapa saja yang mungkin diperlukan untuk memberikan pengaruhnya bagi
    pembentukan tim yang memahami visi dan strategi perusahaan, serta menerima
    kebenarannya.
  3.  Memberikan motivasi bagi orang-orang untuk mengarasi hambatan-hamhatan
    dalam peruhahan manuju perbaikan dengan cara memenuhi kebutuhan manusia yang sangat mendasar yang sering kali tidak terpenuhi.
  4. Menciptakan peruhahan seringkali dalam taraf yang dramatis untuk menghasilkan perubahan yang sangat berguna bagi kemajuan perusahaan. Sebagai misal: diinginkan pelanggan, pendekatan baru dalam hubungan kerja yang akan membantu perusahaan agar lebih mampu berkompetisi, dll.

Tugas Manajer

  1. Menetapkan rencana dan mengalokasikan sumber daya yang ada untuk mewujudkan rencana itu .
  2. Menetapkan struktur organisasi untuk mencapai persyaratan yang telah direncanakan dan menempatkan orang-orang
    yang sesuai dengan struktur yang ada, mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang untuk melaksanakan apa yang telah direncanakan, menetapkan kebijaksanaan dan prosedur untuk  membantu memberikan panduan
    bagi orang-orang dan menciptakan
    metode untuk memantau
    pelaksanaannya.
  3. Memantau hasil-hasil kemudian dibandingkan terhadap rencana dan
    Mengidentifikasi penyimpangan penyimpanganyang terjadi serta
    kemudian emmbuat perencanaan
    dan pengorganisasian untuk
    menyelesaikan maslah-masalah yang
    ada.
  4. Menciptakan suatu taraf yang telah
    direncanakan untuk tetap
    menghasilkan output yang sesuai
    dengan kebutuhan pelanggan.

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juli 2011 in Materi Muliah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: